Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2025

Taksa

Semua orang pasti pernah bertemu dengan yang namanya perpisahan. Entah itu dengan teman, keluarga, atau seseorang yang begitu kita cintai. Namun, adakah cara yang paling bijak untuk menggambarkan situasi ini? Aku tidak tahu. Yang jelas, aku akan menceritakan tentang kami—tentang rumah yang begitu nyaman, tempat pulang yang kini harus kutinggalkan. Sebuah perpisahan yang datang tiba-tiba, begitu tergesa-gesa. Aku tak siap. Aku bahkan tak sempat menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang logis untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Kinur adalah seseorang yang selalu tertutup dalam hal-hal tertentu, sekalipun kami sudah sejauh ini berjalan bersama. Ada banyak teka-teki yang ia tinggalkan dalam pikiranku, membuat malam terasa lebih panjang, dan hari semakin lama. Kami adalah dua manusia yang dipersatukan oleh semesta, entah sebagai ujian atau justru sebagai jawaban. Namun, aku terlalu cepat menyebutnya sebagai takdir. Ataukah aku hanya terlalu jatuh cinta? Hari-hari kami dihiasi...

Ananta

 “Pada Akhirnya, Kita Hanya Penumpang di Perjalanan Takdir” Ada saatnya hidup membawa kita pada persimpangan yang tak pernah kita duga. Di sana, kita berdiri di tengah-tengah jalan, menatap ke depan dengan segala keinginan yang membebani langkah. Kita bertanya-tanya, mengapa harapan yang sudah kita rajut dengan hati-hati sering kali berakhir tidak sesuai dengan bayangan kita? Mengapa ada begitu banyak benturan, alasan, dan proses yang harus dilewati? Lalu kita sadar, bahwa jawaban itu tidak penting — karena satu-satunya kebenaran yang pasti adalah bahwa tak ada satu pun yang benar-benar menjadi milik kita. Semua hal di dunia ini hanyalah titipan yang bisa pergi kapan saja, termasuk cinta yang selama ini kita genggam erat-erat. Kehidupan, pada dasarnya, adalah perjalanan panjang. Seperti antrean yang tak pernah selesai, waktu perlahan akan menyeleksi apa yang benar-benar kita butuhkan, dan apa yang hanya sekadar keinginan sesaat. Satu demi satu, hal-hal yang kita anggap penting akan...

Abstrak

Ada sesuatu yang selalu saya tanyakan pada diri saya sendiri setiap kali malam datang, membawa udara dingin yang meresap hingga ke tulang. Apa yang sesungguhnya kita cari dari sebuah perpisahan? Dan apa yang kita harapkan dari sebuah pertemuan baru? Pertanyaan-pertanyaan ini menggantung, seperti kabut tipis yang menyelimuti pikiranku, tak pernah betul-betul pergi. Dua tahun telah berlalu sejak saya dan Kinur memutuskan untuk berpisah. Perpisahan itu tidak datang dengan amarah atau pertengkaran besar. Tidak ada yang memecahkan piring atau meninggalkan pintu terbanting. Kami hanya sampai pada titik di mana kata-kata kami berhenti saling menemukan tujuan. Seolah-olah semua yang ingin kami katakan sudah terucapkan, tetapi tetap tidak bisa menjembatani jurang yang ada di antara kami. Kinur adalah teka-teki yang tidak pernah selesai kususun. Ia seperti angin yang berlalu tanpa pernah bisa kupegang. Dalam banyak hal, dia adalah misteri yang membungkus dirinya dengan keheningan, menyembunyikan...

Amerta

Kesetiaan cinta Dashrath Manjhi bukanlah sekadar dongeng belaka. Pria sederhana dari India itu, dengan kekuatan cinta yang tak tergoyahkan, rela bekerja keras selama 22 tahun hanya untuk membelah gunung. Ia melakukannya bukan untuk ketenaran, bukan pula untuk kekayaan, melainkan demi sebuah cinta yang tak mengenal batas. Cinta yang membuat gunung pun harus tunduk. Seperti halnya kisah John Lennon dan Yoko Ono yang menggema sepanjang zaman, begitu pula Dashrath Manjhi menjadi lambang cinta sejati yang menginspirasi. Dalam lintasan sejarah, kita menemukan banyak kisah legendaris yang menggetarkan hati, mengajarkan kita makna cinta dalam wujudnya yang paling murni. Namun, apakah setiap orang harus memiliki kisah yang begitu heroik? Tidak. Sebab cinta bukanlah soal seberapa besar hal yang kita lakukan, melainkan seberapa tulus usaha kita untuk memperjuangkannya. Romantisme setiap masa memang berubah, seperti daun-daun yang berguguran di musim gugur dan kembali hijau di musim semi. Namun, a...