Abstrak

Ada sesuatu yang selalu saya tanyakan pada diri saya sendiri setiap kali malam datang, membawa udara dingin yang meresap hingga ke tulang. Apa yang sesungguhnya kita cari dari sebuah perpisahan? Dan apa yang kita harapkan dari sebuah pertemuan baru? Pertanyaan-pertanyaan ini menggantung, seperti kabut tipis yang menyelimuti pikiranku, tak pernah betul-betul pergi.

Dua tahun telah berlalu sejak saya dan Kinur memutuskan untuk berpisah. Perpisahan itu tidak datang dengan amarah atau pertengkaran besar. Tidak ada yang memecahkan piring atau meninggalkan pintu terbanting. Kami hanya sampai pada titik di mana kata-kata kami berhenti saling menemukan tujuan. Seolah-olah semua yang ingin kami katakan sudah terucapkan, tetapi tetap tidak bisa menjembatani jurang yang ada di antara kami.

Kinur adalah teka-teki yang tidak pernah selesai kususun. Ia seperti angin yang berlalu tanpa pernah bisa kupegang. Dalam banyak hal, dia adalah misteri yang membungkus dirinya dengan keheningan, menyembunyikan siapa dia sebenarnya di balik setiap tawa kecil dan senyum tipis. Namun, itulah yang membuatnya memikat—sebuah paradoks yang selalu ingin kupecahkan, meski tahu jawabannya mungkin tak pernah ada.

Kami tidak pernah benar-benar dekat secara fisik. Sepanjang hubungan kami, hanya beberapa kali kami bertemu langsung, itu pun karena kebetulan—momen bersama teman yang mempertemukan kami. Selebihnya, dunia kami terhubung melalui layar. Percakapan panjang hingga larut malam menjadi jembatan di antara jarak kami. Dalam dunia maya itu, aku merasakan ada celah kecil di dinding yang dibangunnya. Namun, tetap ada sesuatu yang tak terjangkau—seperti langit yang selalu tampak jauh, meski kita bisa melihatnya.

Saya mencintai Kinur, lebih dari yang saya pikirkan bisa saya lakukan pada seseorang. Cinta itu bukan ledakan besar atau letupan api yang membakar segalanya. Cinta itu lebih seperti hujan gerimis yang tak henti-hentinya jatuh, meresap perlahan ke dalam tanah. Namun, cinta itu adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan, bukan karena Kinur tidak peduli, tetapi karena dia tidak tahu bagaimana merasakannya. Dia tidak tahu bagaimana memberi dan menerima cinta dalam bentuk yang saya pahami.

Ada sesuatu dalam diri Kinur yang tidak pernah berubah. Dia seperti lukisan yang tak pernah selesai, selalu menyisakan ruang kosong yang membuat siapa pun bertanya-tanya apa yang kurang. Namun, meskipun dia tidak pernah sepenuhnya membuka diri, ada momen-momen di mana aku bisa melihat sekilas siapa dia sebenarnya. Dan dalam momen-momen itu, aku merasa cukup. Seolah-olah kebersamaan kecil yang kami miliki sudah lebih dari cukup untuk mengisi ruang di hatiku.

Ketika kami mencoba untuk berteman kembali, setelah dua tahun jarak yang membentang, ada keanehan yang meliputi percakapan kami. Seperti dua orang asing yang berbagi kenangan yang sama. Dia tersenyum—senyumnya yang selalu saya rindukan. Tetapi di balik senyuman itu, ada sesuatu yang hampa, sesuatu yang belum berubah. Dia masih Kinur yang sama—seseorang yang tak memahami arti cinta, seseorang yang tak bisa memahami apa yang saya rasakan untuknya.

Kami berbicara tentang banyak hal—tentang pekerjaan, tentang cuaca, tentang hal-hal sepele yang biasanya hanya mengisi waktu. Tapi di antara semua itu, ada jeda yang lebih berbicara daripada kata-kata. Seperti bayangan yang tak kasat mata, sesuatu yang tak terucapkan selalu hadir di antara kami. Saya menyadari bahwa saya masih menyimpan perasaan yang sama untuknya, meskipun saya tahu perasaan itu mungkin tak akan pernah benar-benar sampai.

Ada satu malam ketika dia menulis pesan singkat kepadaku. "Kenapa kamu masih di sini?" tulisnya. Nada pesannya seperti kebingungan, mungkin juga kelelahan.

Saya tidak langsung membalas. Apa yang bisa saya katakan? Bagaimana saya bisa menjelaskan bahwa meskipun kami telah berpisah, kehadirannya tidak pernah benar-benar pergi dari pikiranku? Bahwa meskipun dia menjaga jaraknya, saya tetap menemukan kebahagiaan dalam setiap percakapan kecil kami?

Mungkin, hubungan ini seperti bintang di langit malam—terang dari jauh, tetapi tak pernah bisa disentuh. Dan mungkin itu sudah cukup. Ada sesuatu yang indah dalam keberadaannya, meski tak bisa kurengkuh sepenuhnya. Seperti semesta yang luas dan penuh misteri, ada kenyamanan dalam sekadar memandang, tanpa perlu memiliki.

Ketika malam semakin larut dan obrolan kami berakhir dengan diam yang panjang, saya menyadari sesuatu. Perpisahan tidak pernah benar-benar tentang kehilangan, dan pertemuan baru tidak selalu tentang menemukan. Terkadang, perpisahan adalah cara semesta memberi ruang bagi kita untuk tumbuh. Dan pertemuan adalah pengingat bahwa meskipun hati kita pernah hancur, kita masih bisa menjaga sesuatu tetap hidup di dalamnya, meski bentuknya telah berubah.

“Mungkin satu waktu aku akan kehilanganmu, Kinur. Tapi kamu takkan pernah kehilangan aku. Sebab aku di sini, selamanya untukmu,” tulisku dalam hati, meskipun kata-kata itu tidak pernah sampai kepadanya.

Dia tidak menjawab. Hanya notifikasi terakhir darinya yang menjadi penutup malam itu. Tapi itu tidak apa-apa. Karena di dalam hatiku, aku tahu bahwa keberadaannya, meskipun tak sepenuhnya kupahami, adalah sesuatu yang akan selalu kujaga. Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup.

Kata Jalaluddin Rumi Cinta tidak memiliki resolusi. Ia adalah samudra tanpa tepi, langit tanpa batas. Jika kamu mencoba mendefinisikannya, kamu akan kehilangan esensinya. Cinta hanya bisa dirasakan, tidak bisa dijelaskan. Cinta adalah seluruh bagian dari dirimu yang kehilangan logika, namun menemukan keabadian.—Ini menyiratkan bahwa cinta melampaui pemahaman dan logika manusia.


Ikhos 30-Januari-2025


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dia

Komang

Menjawab