Ananta
“Pada Akhirnya, Kita Hanya Penumpang di Perjalanan Takdir”
Ada saatnya hidup membawa kita pada persimpangan yang tak pernah kita duga. Di sana, kita berdiri di tengah-tengah jalan, menatap ke depan dengan segala keinginan yang membebani langkah. Kita bertanya-tanya, mengapa harapan yang sudah kita rajut dengan hati-hati sering kali berakhir tidak sesuai dengan bayangan kita? Mengapa ada begitu banyak benturan, alasan, dan proses yang harus dilewati? Lalu kita sadar, bahwa jawaban itu tidak penting — karena satu-satunya kebenaran yang pasti adalah bahwa tak ada satu pun yang benar-benar menjadi milik kita. Semua hal di dunia ini hanyalah titipan yang bisa pergi kapan saja, termasuk cinta yang selama ini kita genggam erat-erat.
Kehidupan, pada dasarnya, adalah perjalanan panjang. Seperti antrean yang tak pernah selesai, waktu perlahan akan menyeleksi apa yang benar-benar kita butuhkan, dan apa yang hanya sekadar keinginan sesaat. Satu demi satu, hal-hal yang kita anggap penting akan tersisih. Dari sana, kita belajar untuk melepaskan. Untuk menerima bahwa apa yang kita inginkan tidak selalu sama dengan apa yang kita butuhkan.
Dalam cinta pun begitu. Kita sering memulai sesuatu dengan keyakinan bahwa cinta adalah segalanya. Tapi seiring waktu, kita paham bahwa cinta saja tidak cukup. Ada saatnya kita harus memilih, meski pilihan itu melukai hati sendiri. Kita harus mengutamakan kebutuhan atas keberlanjutan hidup dibandingkan sekadar bertahan dalam hubungan yang tak lagi sehat. Sebab, cinta yang sejati tidak hanya tentang memiliki, tapi juga tentang membiarkan diri kita dan orang yang kita cintai tumbuh dalam arah yang mungkin berbeda.
Hidup ini, bagaimanapun, tak pernah berhenti di satu titik. Seperti roda yang terus berputar, kita tak pernah benar-benar diam. Ada masa-masa ketika kita dipaksa untuk turun dari impian lama, menata ulang langkah, dan mendaki ke tempat yang lebih tinggi. Setiap perjalanan adalah pelajaran, dan setiap pelajaran datang dengan harga yang harus dibayar. Kadang, harga itu adalah kepergian seseorang yang pernah kita cintai.
Jika hidup ini adalah permainan kartu, maka kita semua memegang tangan yang berbeda. Kadang kita diberi kartu yang baik, kadang buruk, dan kadang kita mendapatkan kartu joker — kartu yang bisa mengubah segalanya, tapi juga penuh ketidakpastian. Dalam permainan ini, bukan soal menang atau kalah, tapi soal seberapa bijak kita memainkan kartu yang kita pegang. Kita belajar, bahwa hidup bukan tentang memaksakan hasil, melainkan tentang menerima apa pun yang datang dengan hati yang lapang.
Namun, aku sadar, tak semua keresahan yang kutuliskan di sini akan terasa relevan bagi orang lain. Aku telah menulis ratusan blog, ribuan bait kata, tentang cinta, kehilangan, dan penyesalan. Tapi tulisan-tulisan itu, pada akhirnya, adalah proses untuk memahami diriku sendiri. Mungkin cinta yang kutangisi hari ini hanyalah level cinta terendah dalam perjalanan hidupku. Mungkin, di suatu tempat di masa depan, ada cinta yang lebih besar dan lebih bermakna yang menungguku.
Aku mulai belajar bahwa ekspektasi adalah beban yang sering kali tidak perlu. Kita menciptakan ekspektasi karena kita takut kehilangan kontrol atas hidup kita. Tapi pada akhirnya, ekspektasi hanya membuat kita terjebak dalam lingkaran kekecewaan. Melepaskan ekspektasi adalah membebaskan diri dari beban itu. Dan dalam proses itu, aku menyadari bahwa dia — orang yang selama ini kucintai — mungkin bukanlah bagian dari versi terbaik hidupku. Mungkin dia hanyalah pelengkap, sebuah pengingat bahwa cinta itu indah, tapi juga rapuh.
Hari ini, aku memilih untuk melanjutkan hidup. Aku memilih untuk menjalani hari-hari seperti biasa, tanpa terlalu banyak bertanya tentang apa yang seharusnya terjadi. Aku memilih untuk baik-baik saja. Aku tidak akan menyalahkan siapa pun atas apa yang telah terjadi. Sebab, pada akhirnya, hidup ini adalah tentang belajar. Dan pelajaran terbesar yang telah ia berikan adalah bahwa cinta tidak selalu harus dimiliki. Kadang, cinta hanya tentang memberi dan merelakan.
Untuk itu, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih untuk segala kenangan, untuk setiap pelajaran, dan untuk setiap tawa yang pernah kita bagi. Terima kasih, juga, untuk rasa sakit yang mengajarkanku untuk menjadi lebih kuat. Dan jika aku pernah salah, aku mohon maaf. Aku tahu, tidak ada kata-kata yang bisa mengubah masa lalu, tapi aku harap ada ruang kecil dalam hatimu untuk memaafkan.
Sekarang, aku ingin berlari. Mengejar mimpi-mimpi yang selama ini kutunda. Mimpi-mimpi yang menumpuk seperti buku-buku yang belum sempat kubaca. Aku ingin membuka setiap halaman itu, satu per satu, dan menemukan cerita baru yang lebih indah. Dan jika suatu saat nanti kita bertemu lagi, aku berharap kita bisa saling tersenyum. Entah sebagai dua orang yang saling mencintai selamanya, atau sebagai dua orang yang saling mengucapkan selamat atas kebahagiaan masing-masing.
Sebab, pada akhirnya, cinta adalah tentang perjalanan. Dan aku tahu, dalam perjalanan ini, aku hanya seorang penumpang. Penumpang yang tak pernah tahu di mana perjalanannya akan berakhir. Tapi aku percaya, setiap pertemuan, setiap perpisahan, adalah bagian dari takdir. Dan takdir selalu tahu apa yang terbaik untuk kita.
Maka, aku melangkah dengan keyakinan. Bukan keyakinan bahwa semuanya akan berjalan sesuai harapan, tapi keyakinan bahwa aku akan baik-baik saja. Aku akan bahagia, dengan atau tanpa cinta yang pernah kuimpikan. Sebab, hidup ini terlalu indah untuk dihabiskan dengan penyesalan.
Dan untukmu, yang pernah menjadi bagian dari hidupku, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik. Aku berharap, di mana pun kamu berada, kamu menemukan kebahagiaan yang kamu cari. Aku berharap kamu menemukan cinta yang tidak hanya membuatmu merasa utuh, tapi juga tumbuh. Dan jika takdir mempertemukan kita lagi, aku akan menyambutmu dengan hati yang lapang. Sebab, meski perjalanan ini telah membawa kita ke arah yang berbeda, kamu akan selalu menjadi bagian dari cerita hidupku.
Pada akhirnya, aku memilih untuk mencintaimu dengan cara yang sederhana. Bukan dengan memiliki, tapi dengan mendoakan. Sebab, cinta yang sejati tidak membutuhkan kepemilikan. Cinta yang sejati hanya membutuhkan ketulusan. Dan aku tahu, aku mencintaimu dengan tulus.
Mungkin, di masa depan, aku akan jatuh cinta lagi. Mungkin, aku akan menemukan seseorang yang membuatku merasa lebih hidup. Tapi itu tidak akan pernah menghapus cinta yang pernah kumiliki untukmu. Sebab, cinta yang pernah kita bagi adalah bagian dari diriku. Dan meski aku harus melangkah maju, aku akan selalu mengenangmu sebagai seseorang yang pernah mengajariku tentang arti cinta dan kehilangan.
Jadi, mari kita lanjutkan perjalanan ini. Mari kita berlari mengejar mimpi-mimpi kita. Dan jika suatu saat nanti kita bertemu lagi, aku harap kita bisa saling tersenyum, bukan sebagai orang yang pernah saling menyakiti, tapi sebagai orang yang pernah saling mencintai. Sebab, pada akhirnya, cinta adalah tentang perjalanan, bukan tujuan.
Dan aku, seperti kamu, hanyalah seorang penumpang di perjalanan takdir.
Komentar
Posting Komentar