Postingan

Taksa

Semua orang pasti pernah bertemu dengan yang namanya perpisahan. Entah itu dengan teman, keluarga, atau seseorang yang begitu kita cintai. Namun, adakah cara yang paling bijak untuk menggambarkan situasi ini? Aku tidak tahu. Yang jelas, aku akan menceritakan tentang kami—tentang rumah yang begitu nyaman, tempat pulang yang kini harus kutinggalkan. Sebuah perpisahan yang datang tiba-tiba, begitu tergesa-gesa. Aku tak siap. Aku bahkan tak sempat menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang logis untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Kinur adalah seseorang yang selalu tertutup dalam hal-hal tertentu, sekalipun kami sudah sejauh ini berjalan bersama. Ada banyak teka-teki yang ia tinggalkan dalam pikiranku, membuat malam terasa lebih panjang, dan hari semakin lama. Kami adalah dua manusia yang dipersatukan oleh semesta, entah sebagai ujian atau justru sebagai jawaban. Namun, aku terlalu cepat menyebutnya sebagai takdir. Ataukah aku hanya terlalu jatuh cinta? Hari-hari kami dihiasi...

Ananta

 “Pada Akhirnya, Kita Hanya Penumpang di Perjalanan Takdir” Ada saatnya hidup membawa kita pada persimpangan yang tak pernah kita duga. Di sana, kita berdiri di tengah-tengah jalan, menatap ke depan dengan segala keinginan yang membebani langkah. Kita bertanya-tanya, mengapa harapan yang sudah kita rajut dengan hati-hati sering kali berakhir tidak sesuai dengan bayangan kita? Mengapa ada begitu banyak benturan, alasan, dan proses yang harus dilewati? Lalu kita sadar, bahwa jawaban itu tidak penting — karena satu-satunya kebenaran yang pasti adalah bahwa tak ada satu pun yang benar-benar menjadi milik kita. Semua hal di dunia ini hanyalah titipan yang bisa pergi kapan saja, termasuk cinta yang selama ini kita genggam erat-erat. Kehidupan, pada dasarnya, adalah perjalanan panjang. Seperti antrean yang tak pernah selesai, waktu perlahan akan menyeleksi apa yang benar-benar kita butuhkan, dan apa yang hanya sekadar keinginan sesaat. Satu demi satu, hal-hal yang kita anggap penting akan...

Abstrak

Ada sesuatu yang selalu saya tanyakan pada diri saya sendiri setiap kali malam datang, membawa udara dingin yang meresap hingga ke tulang. Apa yang sesungguhnya kita cari dari sebuah perpisahan? Dan apa yang kita harapkan dari sebuah pertemuan baru? Pertanyaan-pertanyaan ini menggantung, seperti kabut tipis yang menyelimuti pikiranku, tak pernah betul-betul pergi. Dua tahun telah berlalu sejak saya dan Kinur memutuskan untuk berpisah. Perpisahan itu tidak datang dengan amarah atau pertengkaran besar. Tidak ada yang memecahkan piring atau meninggalkan pintu terbanting. Kami hanya sampai pada titik di mana kata-kata kami berhenti saling menemukan tujuan. Seolah-olah semua yang ingin kami katakan sudah terucapkan, tetapi tetap tidak bisa menjembatani jurang yang ada di antara kami. Kinur adalah teka-teki yang tidak pernah selesai kususun. Ia seperti angin yang berlalu tanpa pernah bisa kupegang. Dalam banyak hal, dia adalah misteri yang membungkus dirinya dengan keheningan, menyembunyikan...

Amerta

Kesetiaan cinta Dashrath Manjhi bukanlah sekadar dongeng belaka. Pria sederhana dari India itu, dengan kekuatan cinta yang tak tergoyahkan, rela bekerja keras selama 22 tahun hanya untuk membelah gunung. Ia melakukannya bukan untuk ketenaran, bukan pula untuk kekayaan, melainkan demi sebuah cinta yang tak mengenal batas. Cinta yang membuat gunung pun harus tunduk. Seperti halnya kisah John Lennon dan Yoko Ono yang menggema sepanjang zaman, begitu pula Dashrath Manjhi menjadi lambang cinta sejati yang menginspirasi. Dalam lintasan sejarah, kita menemukan banyak kisah legendaris yang menggetarkan hati, mengajarkan kita makna cinta dalam wujudnya yang paling murni. Namun, apakah setiap orang harus memiliki kisah yang begitu heroik? Tidak. Sebab cinta bukanlah soal seberapa besar hal yang kita lakukan, melainkan seberapa tulus usaha kita untuk memperjuangkannya. Romantisme setiap masa memang berubah, seperti daun-daun yang berguguran di musim gugur dan kembali hijau di musim semi. Namun, a...

Titian

Mewarisi Nama, Menapaki Langkah Setiap hidup adalah rangkaian perjalanan, dan 24 tahun bukanlah sekadar hitungan waktu yang berlalu begitu saja. Ia adalah pertautan dari ratusan pengalaman, berjuta pelajaran, dan sekian banyak cobaan yang menguatkan. Sebagai seseorang yang lahir dari keluarga yang terpandang, yang dalam sejarahnya tersandang nama besar, saya tahu bahwa apa yang tampak di permukaan hanyalah potongan kecil dari kisah yang sebenarnya. Nama belakang saya, Letsoin, membawa jejak panjang yang bermula jauh sebelum saya lahir. Di belakang nama itu, ada leluhur-leluhur saya, sosok-sosok tangguh seperti kakek Muhammad Yusuf, Muhammad Josan, dan ayah saya Ali Idrus, yang pada masanya dipandang sebagai raja tam, tokoh yang tidak hanya dihormati tetapi juga memikul tanggung jawab besar. Namun, saat ini, di dunia yang terus berubah, apakah kedudukan dan status masih menjadi ukuran utama? Adakah makna lebih dalam dari sekadar kebanggaan pada garis keturunan? Saya, Riski Sandi Letsoin...

Menapak

Impian, Keinginan, dan Kesejahteraan Hidup Apa itu mimpi? Bagi sebagian orang, mimpi adalah tujuan, alasan bangun di pagi hari, sesuatu yang membuat langkah mereka terasa berarti. Bagi yang lain, mungkin sekadar harapan samar, seperti awan yang bisa dilihat tapi sulit dijangkau. Ada juga yang menjalani hidupnya tanpa mimpi besar, mungkin karena mereka merasa semua yang dibutuhkan sudah ada. Lalu, apa bedanya hidup dengan atau tanpa mimpi? Mimpi—lebih tepatnya cita-cita—memang sering dikaitkan dengan usaha besar yang membawa kita ke tempat yang lebih baik. Ketika kita punya tujuan, biasanya ada api dalam diri yang menyala untuk mencapainya. Tapi tentu saja, mimpi tak cukup hanya menjadi bahan bakar sesaat. Mimpi membutuhkan niat yang kuat, komitmen yang tak lekang, serta langkah yang konsisten. Bagaimanapun, hidup selalu menawarkan pilihan untuk maju atau mundur, dan mimpi bisa jadi adalah kompas yang menunjukkan arah meski jalannya berliku. Namun, tidak semua orang hidup di dunia yang ...

Noktah

Langit yang Kita Pandangi, Senja yang Kita Bagi Di tahun 2023, aku bertemu Kinur di sebuah universitas di kota kami. Dalam sekejap pandang, aku merasakan sesuatu yang asing namun menenangkan. Matanya menjadi titik pertama yang menarik, namun lambat laun aku menyadari bahwa setiap kekurangan dan kelebihan dalam dirinya memikat tanpa perlu banyak alasan. Dia adalah seorang introvert yang selalu tenang, namun juga misterius dalam diamnya. Ada sisi pemalu, pendiam, dan bahkan ketidakstabilan dalam perasaannya, yang mungkin bagi sebagian orang adalah kekurangan. Tapi bagi diriku, itu adalah keindahan yang unik—kecantikan yang terselip dalam ketenangan dan keberanian yang halus. Hari demi hari, aku semakin terbiasa akan kehadirannya. Terbiasa pada kebiasaannya yang lebih banyak berdiam, namun mengisi ruangan dengan pesona yang lembut. Kami sering berpapasan di ruang kelas, dan dalam momen itu aku merasa ada ikatan yang aneh tapi nyata, seolah-olah takdir memang sengaja menuntun kami pada ara...